>
>
>
>
Keputusan The Fed untuk melakukan penurunan BPS dan terpilihnya Presiden Donald Trump serta jatuh temponya SRBI mengisyaratkan akan adanya dampak signifikan terhadap keadaan ekonomi Indonesia. Antisipasi & persiapan apa saja yang sebaiknya dilakukan? Let’s find out!
Pada awal tahun 2025, likuiditas pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan yang cukup signifikan. Salah satu tantangan utama adalah jatuh tempo Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) senilai Rp114,56 triliun pada Januari 2025, yang berpotensi memicu arus keluar modal asing (capital outflow). Berikut key notes yang bisa diambil dari kejadian ini:
1. Arus Keluar Modal Asing (Capital Outflow)
2. Faktor Eksternal: Kenaikan Yield Treasury AS
3. Jatuh Tempo Utang Luar Negeri Indonesia
4. Penurunan Kepemilikan Asing atas SRBI
The Fed diproyeksikan hanya memangkas suku bunga sebesar 50bps pada 2025, lebih rendah dari prediksi sebelumnya sebesar 100bps yang dipengaruhi oleh:
Melihat keadaan ini Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan sebesar 0,25bps di level 5,75% per Januari 2025 dengan tujuan:
1. Melemahnya Pergerakan Nilai Tukar Rupiah
Rupiah tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah 0,31% di angka Rp16.310/US$ pada hari ini (15/1/2025) pasca Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap terkendali karena kebijakan stabilisasi BI dan akan terus stabil berkat komitmen BI menjaga stabilitas, imbal hasil menarik, serta prospek baik.
2. Indeks Harga Saham Gabungan Menguat
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 1,77% ke level 7.079 usai BI pangkas suku bunga. Investor masih wait and see karena di dalam negeri belum ada sentimen yang cukup kuat untuk menggairahkan pasar keuangan.
Secara global, pasar masih mencermati pasar data tenaga kerja AS yang akan mempengaruhi kebijakan The Fed. Peluang terjadinya January Effect di pasar saham Indonesia pada tahun ini diperkirakan tidak terlalu agresif lantaran dana asing yang keluar akan terbatas, mengingat Window Dressing pada 2024 tidak terjadi atau indeks tercatat negatif.
Meskipun tantangan likuiditas dan tekanan global terus membayangi, optimisme tetap ada. Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,1% pada 2025, mencerminkan keyakinan terhadap resiliensi ekonomi domestik. Dalam menghadapi dinamika likuiditas, sinergi kebijakan moneter dan fiskal menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong keberlanjutan pertumbuhan.
Sebagai mitra keuangan Anda, Nobu Bank memiliki beberapa inovasi yang dapat dalam membantu Anda menghadapi tantangan ini melalui produk unggulan:
Informasi atau rangkuman dari PT Bank Nationalnobu Tbk akan selalu diperbaharui setiap minggunya. Informasi ini hanya sebagai salah satu sumber informasi bukan sebagai rekomendasi untuk menawarkan pembelian efek, komoditas atau produk Investasi lainnya atau untuk melakukan perjanjian Investasi dan atau valuta asing. PT Bank Nationalnobu Tbk tidak bertanggung jawab dan tidak menjamin atas isi, keakuratan ataupun kelengkapan informasi maupun waktu atau menyatakan bahwa informasi ini dapat diandalkan dengan alasan apapun. Informasi atau rangkuman yang tercantum diperoleh dari sumber dibawah ini.
Sumber Data: Bloomberg, CNBC, Katadata, Kontan, Bisnis Indonesia, Bank Indonesia
Belum punya nobu Go? Download sekarang!
Anda akan menerima informasi mengenai berita terbaru dan juga berbagai penawaran promo menarik Bank NOBU langsung melalui e-mail Anda.
SELESAI